Kata orang, jika kendaraan sudah mulai sering ngadat-ngadat dan sering mogok, itu tandanya sudah waktunya untuk diganti. Kataku itu relative, bisa iya bisa juga tidak, iya bagi mereka yang berkantong tebal, bahkan mungkin tak perlu menunggu sampai mogok, jika mereka sudah bosan, mereka tinggal pergi ke dealer terdekat untuk memilih model terbaru kendaraan yang mereka inginkan. Berbeda denganku yang berkantong pas-pasan, yang menggantungkan hidup hanya sebagi buruh pabrik, tentunya itu tak semudah seperti yang dibayangkan.
Singkat cerita, waktu itu si butut mogok lagi, bahkan mungkin saat itu adalah kondisi mogok terparah yang pernah dialaminya, sampai kesal aku dibuatnya. Kebetulan waktu itu bertepatan dengan acara pernikahan rekan sekerjaku. Sebut saja namanya Ucen, waktu itu aku dan teman-teman sekerjaku yang lain, berencana akan kerumah si Ucen sepulang kerja, berangkat rombongan dengan sepeda motor. Maklum, rumah Ucen memang cukup jauh dari tempat kerja kami, kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan sepeda motor, dan tidak semua rekan kerja yang lain tahu tempatnya, karena acara pernikahan dilakukan dirumah mempelai wanita, jadi kami berencana kesananya rombongan saja, toh apapun jika dilakukan beramai-ramai pasti lebih asyik..
Pukul lima sore lebih sedikit kamipun berangkat, sempat berhenti sejenak ditempat kos-kosan teman, karena beberapa teman yang lain akan ikut nebeng. Karena aku sendirian maka seorang teman wanita, sebut saja namanya indri, memintaku untuk menebeng, akupun tak keberatan, dan kamipun melanjutkan perjalanan. Di perjalanan tersebut si butut mulai menunjukan sikap yang tak bersahabat, mula-mula knalpotnya terdengar sedikit mbrebet, kemudian tarikan gas mulai sering terasa los, lama-lama setiap mesin pada posisi putaran rendah, mesin selalu mati, sehingga saat motor berhenti aku terpaksa harus terus menerus menarik gas penuh, layaknya rider yang siap-siap melumat jalanan begitu letupan pistol START dibunyikan, padahal motorku tak lebih dari grand butut yang sekilas lebih mirip cempe gembel kecemplung paceran (baca: anak kambing gibas tercebur di got)
Kami berhenti sejenak disebuah masjid untuk menunaikan sholat maghrib, kemudian setelah shalat aku ceritakan perihal si butut pada teman-teman, akhirnya untuk menghindarkan hal yang tidak diinginkan, seperti mogok di tengah sawah, mengingat perjalanan kerumah ucen masih lumayan jauh, dan memang melewati persawahan yang jauh dari pemukiman, akhirnya si Indri aku sarankan untuk menebeng ke teman lain yang kebetulan masih ada yang kosong, dan teman-teman menyuruhku jalan duluan dan mereka akan mengawal dari belakang, berjaga-jaga jika nanti si butut mogok lagi, sungguh baiknya bukan main teman-temanku itu, bukan??
Sesampainya di rumah mempelai, si butut lagi-lagi mogok, tapi kali ini benar-benar mogok, hingga berkali-kali aku starter mesinnya nggak mau nyala, jadi terpaksa aku hurus menuntun si butut melewati kerumunan tamu undangan, Hufft.. Layaknya orang kondangan, kamipun menemui Sang mempelai, menyalami dan memberinya selamat, dilanjut dengan acara makan-makan dan foto-foto, kemudian meyalami mempelai lagi dan kemudian berpamitan.
Aku dan teman-teman kembali menggarap si butut, agak sedikit ramai sehingga memancing perhatian para tamu undangan yang lain, sungguh si butut sangat menyusahkanku hari itu, bersyukur tak berselang lama kemudian, mesin si butut bisa kembali nyala, seperti yang sudah-sudah teman-teman menyuruhku untuk jalan duluan dan mereka mengawalku dari belakang, dan lagi-lagi di tengah persawahan si butut kembali mogok, diagnosaku ini pastilah karena rantai sketeng/kamprat yang sudah terlalu kendor, yang menyebabkan putaran poros engkol, gerak maju mundur piston dan buka tutup katup jadi tidak sinkron, akibatnya putaran mesin jadi tidak stabil, huh.. kenapa juga kemarin-kemarin saat aku service si butut aku terlalu menunda-nunda untuk mengganti komponen tersebut, padahal diagnosanya sudah cukup lama. Tapi tahukah dirimu kawan? Bahwa sebenarnya masalah utamanya bukan itu, dan ternyata sangat sepele, akan kuceritakan nanti.
Bersyukur aku punya teman-teman yang sangat baik, dan si butut pun kami garap lagi, ditengah persawahan yang sepi dan petang karena tak ada satupun lampu penerang jalan, kami bahu membahu menggarap si butut, cukup lama, sampai seorang teman menyarankan agar meninggalkan si butut dirumah Ucen saja, biar besok di service ke bengkel sama si Ucen, tapi aku enggan merepotkan orang lain, apalagi ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi Ucen, masa aku tega merepotkannya untuk mengurusi si butut.
Berbekal keahlian sewaktu kuliah dulu, si Budbud yang notabene dari jurusan teknik mesin, akhirnya berhasil juga ngoprek si butut, tapi kali ini ini si butut harus terus aku geber-geber sekuatnya, karena sedikit saja putaran mesin aku turunkan, mesin si butut langsung mati, dan seperti biasa teman-teman membiarkanku untuk melaju terlebih dahulu. Tak mau kehilangan kesempatan, mumpung mesin si butut bisa nyala, aku mau langsung secepatnya sampai di kos, maka langsung kutinggalkan jauh teman-teman yang mengawal dari belakang, kugeber si butut sekuatnya, meluncur membelah malam.
Tapi dasar si butut, mungkin malam itu dia ingin memberi pelajaran pada tuannya, karena merasa disia-sia..
Sebelum akhirnya sampai di kos, dia harus mogok beberapa kali, diantaranya di perempatan johar karawang, di lintasa rel kereta api johar, dan di gang yang menuju kontrakanku, tapi bedanya kali ini aku harus menanganinya sendiri, karena teman-temanku sudah terpisah saat aku tinggalkan jauh sebelumnya. Bayangkan saja, setelah seharian bekerja, dilanjut perjalanan jauh menghadiri undangan pernikahan seorang teman, masih harus direpotkan dengan persoalan si butut yang semakin rewel saja.
Sekitar pukul 21.30 akhirnya bisa sampai di kos juga, badan serasa remuk redam, capek bukan buatan, setelah bersih-bersih badan sekedarnya, sholat, kemudian tanpa menunggu lama langsung kurebahkan badan bersiap menuju tanah impian.
Keesokan paginya langsung aku bawa si butut, kebengkel terdekat, tapi sayang bengkel terdekat saat itu yang dapat aku temui jaraknya lumayan buat bikin kaki jadi kena srepet (baca:rematik). Sekitar setengah kiloan lebih mungkin, dan karena mesin si butut tidak bisa menyala sama sekali, jadi terpaksa harus aku tuntun
Sesampainya disana ternyata masih harus ngantri lagi, selang beberapa puluh menit, akhirnya si empunya bengkel tadi menyapaku, tapi dalam logat jawa yang agak ngapak, mungkin dia melihat plat nomor si butut yang mengisyaratkan bahwa pemiliknya pastilah orang jawa. Karena tadi dia ngomong dengan logat jawa ngapak-nya, maka akupun mencoba untuk mengimbanginya dengan logat ngapak juga.
Disela-sela si mekanik tadi memeriksa si butut kami juga ngobrol ngalor ngidul, mungkin karena kami merasa sesuku (suku ngapak), jadi obrolan pun semakin gayeng saja. Maklum, namanya di tanah rantau, bisa menemukan seseorang yang sedaerah saja, meski itu cuma satu kabupaten, rasanya sudah menyenangkan. Mungkin karena penasaran, si mekanik tadi menanyakan dari mana aku berasal.
“Njenengan asline ngendi mas?” tanyanya, “Asliku cilacap mas” jawabku. “Oo cilacap? Cilacape ngendi?” tanyanya lagi, “Majenang” jawabku lagi, “Majenange ngendi mas?” dia semakin penasaran, “Cilopadang mas” jawabku sekali lagi.
“Karo prapatan cilopadang sebelah ngendine?” tanyanya kali ini dengan pasang muka penasaranya, “Omahku ya sekan prapatan maring ngetan sitik, paling ya satus meteran lah, geneng njenengan ngerti prapatan cilopadang? Njenengan asline ngendi sih ” Jawabku kali ini tak kalah penasaran. “Omahku benda sari, Pondok El-bayan ngerti?” jawabnya kali ini, “Oo ya ngerti banget”
Tahukah dirimu kawan, ternyata kami itu masih satu kelurahan, meski jarak rumah kami cukup jauh, karena berbeda dusun, tapi bagi sesama perantau jarak tersebut terasa begitu dekat, seolah-olah seperti tetangga sebelah rumah saja. Tak disangka, bengkel yang cukup ramai dan hampir setiap hari aku lalui itu ternyata pemiliknya masih sekampung denganku, Memang dunia itu sempit.
Dan diagnosaku terhadap si butut kemarin, bahwa penyebab mogoknya adalah karena rantai sketeng/kampratnya yang sudah terlalu kendor, itu ternyata salah, sekendor-kendornya rantai sketeng tersebut, asal jangan sampai putus saja, tidak akan menyebabkan mesin mati total, paling efeknya ke putaran mesin yang tidak stabil dan suara berisik saja. Dan kali ini penyebab mogoknya si butut cuma businya saja yang sudah mati, ckckckck… padahal masalah seperti ini termasuk hal yang sangat sepele, karena aku sebenarnya sudah terbiasa dan tahu cara mengatasinya, tapi entah kenapa, dan aku juga tidak habis pikir, kok bisa dari kemarin aku nggak kepikiran untuk mengganti businya dulu, padahal aku punya spare & cadangan busi baru buat sibutut waktu itu. Dan nyatanya setelah busi kuganti dengan yang baru, si butut bisa kunyalakan dengan normal, bagaimanapun juga ini pelajaran yang sangat berharga buatku, semoga kedepan si butut gak rewel-rewel lagi, kalopun masih rewel juga, mungkin sudah saatnya berpikir untuk mengganti dirinya dengan yang lain


















