JIka kau tanyakan padaku, siapakah wanita yang paling kucinta? maka sontak akan ku jawab… “Ibuku”, kemudian kau coba mengulangi pertanyaanmu sekali lagi, kemudian siapa lagi? “Ibuku” dan untuk yang ketiga kalinya kau masih menayaiku dengan hal yang sama, maka jawabanku akan tetap sama, “Ibuku” kemudian karena rasa penasaranmu yang terus membuncah, maka kau tanyakan hal itu sekali lagi, kemudian siapa lagi? maka untuk jawaban yang keempat, mungkin akan aku jawab, kakak-kakak perempuanku, atau mungkin kekasihku (jika saat itu aku sedang kasmaran dengan seorang gadis yang cantik, smart & solehah
) atau mungkin istriku (jika saat itu statusku sudah menjadi seorang suami dari seorang wanita yang cantik, smart & solehah
) atau anak-anak perempuanku (jika saat itu statusku sudah menjadi seorang ayah) [ngarep.com], kemudian karena rasa penasaranmu yang terus menggerogotimu *halah* maka kamu pun lantas melanjutkan pertanyaanmu, kenapa kau jawab 3 pertanyaanku dengan 3 jawaban yang sama?? kali ini mungkin giliran aku yang akan muntab padamu, kenapa juga kamu ngasih aku 3 pertanyaan yang sama?? *kok jadi mbulet2 gini ya*
ok.. n the answer iz… bcoz i love her, so much..
ya aku begitu mencintainya, melebihi cintaku pada semua wanita, bagiku beliau bukan hanya sesosok wanita yang berjasa menjadi gerbang kelahiranku ke dunia, bagiku beliau bagaikan sesosok malaikat yang dikirimkan Allah bagi keluargaku, beliau adalah sesosok wanita yang solehah, taat dan setia pada suami, sesosok wanita yang tangguh, sabar dan santun, sungguh beruntung ayah bisa mendapatkan sesosok wanita sepertinya. Begitu juga dengan kami tentunya (aku dan kakak-kakakku) betapa beruntungnya kami dilahirkan dan dibesarkan oleh wanita seperti beliau.
Beliau yang begitu sabar, disaat ayah mulai sakit-sakitan belasan tahun yang lalu, ibu lah yang mem-backup posisi ayah sebagai tulang punggung keluarga, bekerja sebagi PNS yang waktu itu masih menjadi profesi yang tak banyak diminati orang karena gaji yang sangat pas-pasan, sehingga tak jarang dirumahpun beliau masih sempat menerima orderan jahitan dari para tetangga demi mencukupi kebutuhan keluarga, sungguh susah untuk dibayangkan betapa berat perjuangannya, rutinitas bangun di pagi buta beliau lakukan setiap hari, dimulai dari melakukan berbagai aktivitas ibu rumah tangga, seperti bersih-bersih, mencuci, mengurus dan memandikan anak-anaknya, dan memasak serta menyiapkan sarapan untuk keluarga, meski terkadang ia sendiri tak sempat untuk sarapan karena ia harus memastikan tidak kesiangan sampai di kantor.
Sepulang dari kantor sekitar jam 4 sore, biasanya ia gunakan untuk beristirahat barang sejenak, untuk kemudian kembali melakukan aktivitas selayaknya seorang ibu rumah tangga, mengurus dan memandikan anak-anaknya, menyiapkan makan malam.
Selepas maghrib beliau gunakan untuk bercengkrama dengan kami anak-anaknya, menanyakan PR kami, mendampingi kami belajar, menceritakan dongeng-dongeng pengantar tidur ataupun sekedar membacakan buku kisah para nabi, dan jika ada orderan jahitan biasanya beliau sempatkan untuk mengerjakanya, hingga lelah dan kantuk tak sanggup lagi berkompromi dengannya.
Tapi disela-sela kesibukannya, masih ia sempatkan bangun di sepertiga akhir malam untuk bertahajud, mendoakan kami anak-anaknya serta kebaikan bagi keluarganya, Subhanalloh.. dan rutinitas tersebut ia lakukan bertahun-tahun, setidaknya sampai kami anak-anaknya dapat mandiri. OK sekarang katakan padaku adakah alasan untuku untuk tidak mencintainya melebihi cintaku pada semua wanita??
Beliau yang kepulanganya dari kantor selalu kami tunggu, karena biasanya selalu membawa oleh-oleh entah itu sekedar buah-buahan musiman seperti mangga, rambutan, (yang tentu saja lebih murah harganya karena sedang musimnya), atau jajanan pasar yang ia beli di terminal atau pasar dekat kantornya.
Beliau yang selalu membawakan kami buku-buku dongeng dan cerita yang dipinjamnya dari kantor, karena ia bekerja di kantor instansi pemerintah daerah yang mengurusi masalah pendidikan dan kebudayaan, sehingga membuat kami gemar membaca sedari kecil.
Beliau yang selalu mendukung dan mensupport kegemaran anak-anaknya, salah satunya adalah kegemaranku yang suka menggambar, sampai-sampai bisa dibilang tak ada kertas dan buku yang tak tersentuh coretan-coretan tanganku, dan untuk menyokong hobyku tersebut, beliau membuatkan buku gambar khusus untuku, buku gambar spesial yang ia buat dengan tanganya sendiri, sebuah buku yang tersusun dari kertas-kertas bekas yang terbuang yang ia dapatkan dari kantornya, kemudian ia jilid dan beri sampul, tak tanggung-tanggung tebalnya bisa berlipat-lipat dari buku tulis biasa dengan ukuran A4, dan menurutku itu adalah buku spesial karena tak akan pernah kau dapatkan dijual ditoko manapun. So..coba sekarang katakan padaku, adakah alasan untuku untuk tidak mencintainya melebihi cintaku pada semua wanita??
Beliau yang senantiasa menjahit dengan tanganya sendiri seragam-seragam sekolah untuk anak-anaknya, serta baju-baju baru lebaran kami, terkadang kami disuruhnya untuk mendesain sendiri modelnya, tak jarang kami diajaknya juga untuk memilih sendiri corak dan tipe kain yang akan digunakan, setidaknya sampai kami menginjak remaja dan mulai melirik baju-baju ditoko.
Ah rasanya terlalu banyak kalau harus aku ceritakan semuanya disini
Kini, diusia senjanya, ingin rasanya selalu dekat denganya, melayaninya sepenuh hati seperti saat ia melayani kami sewaktu kecil, selalu ada saat ia membutuhkan, tapi apalah daya, kehidupan terus bergulir, dan akupun punya kehidupanku sendiri yang harus kujalani, ladang rizkiku yang ternyata jauh dari kampung halaman, memaksaku tak bisa menemuinya setiap hari, tapi kami bersyukur masih bisa terus berkomunikasi, meski cuma sekedar berkirim sms atau menelponya setiap pekan, karena akupun bisa merasakan betapa kesepianya ia sekarang, karena aku sebagai anak terakhirnya, ternyata harus pergi juga meninggalkan kampung halaman.
Maka setiap ada kesempatan liburan dan bisa pulang ke kampung halaman, selalu kuhabiskan waktu liburanku dirumah saja, bercengkrama dengannya, menghabiskan waktu pagi dan sore didapur bersamanya, menemani dan membantunya memasak sembari ngeteh/ngopi dan bercengkrama, tak jarang kami minum dari gelas yang sama, sungguh menyenangkan.
Mungkin untuk saat ini baru itu yang mampu kulakukan untuk membahagiakanya, aku belum mampu berbuat lebih untuknya, seperti meng-hajikan mereka berdua (Ayah & Ibuku), aku hanya bisa terus berusaha menjadi lebih baik, seperti apa yang ia harapkan, tapi yang terpenting aku selalu mendoakan mereka berdua dalam munajat disetiap shalatku, semoga Allah meninggikan derajatnya, mengampuni dosa-dosanya, membahagiakan dan memuliakanya di dunia dan diakhirat kelak.. Amin.
–
Tulisan singkat ini kupersembahkan untuk Ibuku tercinta..
dalam rangka memeriahkan hari wanita sedunia yang jatuh setiap (8 Maret)




















Subhanallah.. bukankah surga itu ditelapak kaki ibu…
jadi berbaktilah kepadanya…
nice post..
hehe… trims..
I really like your blog mate.The thing is, I love your theme. My site is about Acqua di Parma, coudl you please visit my site and give some advice?