Bertepatan dengan perayaan idul adha 1432 H kali ini, saya ingin berbagi sebuah kisah yang sangat menyentuh, yang ditulis oleh Ahmad Tohari, dan pernah dimuat di kolom RESONANSI – Republika Desember 2006. Sebuah Kisah tentang Yu Timah, warga papa yang dengan keikhlasannya, merelakan hampir seluruh hartanya digunakan untuk membeli hewan kurban untuk dikurbankan. Semoga dengan kisah ini dapat menjadikan pelajaran bagi kita semua yang nasibnya lebih beruntung dari mereka, tapi terkadang masih menunda-nunda untuk berkurban.
Berikut kisahnya, cekidot.. ![]()
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir.
Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.
Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun.
Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.
Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta . Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga.
Read the rest of this entry »
JIka kau tanyakan padaku, siapakah wanita yang paling kucinta? maka sontak akan ku jawab… “Ibuku”, kemudian kau coba mengulangi pertanyaanmu sekali lagi, kemudian siapa lagi? “Ibuku” dan untuk yang ketiga kalinya kau masih menayaiku dengan hal yang sama, maka jawabanku akan tetap sama, “Ibuku” kemudian karena rasa penasaranmu yang terus membuncah, maka kau tanyakan hal itu sekali lagi, kemudian siapa lagi? maka untuk jawaban yang keempat, mungkin akan aku jawab, kakak-kakak perempuanku, atau mungkin kekasihku (jika saat itu aku sedang kasmaran dengan seorang gadis yang cantik, smart & solehah 
Kata orang, jika kendaraan sudah mulai sering ngadat-ngadat dan sering mogok, itu tandanya sudah waktunya untuk diganti. Kataku itu relative, bisa iya bisa juga tidak, iya bagi mereka yang berkantong tebal, bahkan mungkin tak perlu menunggu sampai mogok, jika mereka sudah bosan, mereka tinggal pergi ke dealer terdekat untuk memilih model terbaru kendaraan yang mereka inginkan. Berbeda denganku yang berkantong pas-pasan, yang menggantungkan hidup hanya sebagi buruh pabrik, tentunya itu tak semudah seperti yang dibayangkan.
Pernah sekali waktu saya diajak mancing oleh seorang kawan, sebut saja namanya ucen, dalam satu kesempatan di jam istirahat makan siang, ucen menyambangi saya dan mulai mengajak saya ngobrol, Jarr.. weekend besok kamu ada acara nggak?? nggak ada cen, mang kenapa?? “jawabku”. Main kerumahku aja yuk, ntar kita mancing, “ucen menimpali” boleh.. tapi aku nggak punya joran cen.. jawabku lagi.
Siang itu, di hari minggu, selepas berbenah & bersih-bersih kontrakan, seperti biasa akupun keluar untuk berkuliner siang, ku pancal 

